Dalam sebuah wawancara yang disiarkan stasiun TV Al-Wathan beliau mengisahkan:
"Suatu hari, seperti biasa aku menyiapkan daftar wafat harian. Tiba-tiba rekan kerjaku memanggilku, "Wahai syaikh, kita kedatangan jenazah".
"Baiklah, masukkan keruang pemandian. Aku akan ganti baju terlebih dahulu, setelah itu akan menyusul kalian."
Begitu aku masuk keruang pemandian, Aku mendapati seorang pemuda yang meminta agar semua orang keluar dari tempat pemandian, tak terkecuali orang tua dan saudara si mayit.
Kalau saja aku tidak memakai baju kerja pasti dia juga sudah mengusirku.
Aku katakan padanya, "Baiklah, aku butuh satu atau dua orang untuk membantuku memandikan jasad ini". Dengan cepat pemuda itu menjawab, "Biarkan aku sendiri yang akan membantumu"
Ketika aku mulai membuka wajah si mayit dan menanggalkan pakainnya satu-persatu, tiba-tiba pemuda itu menangis histeris. Aku lantas menegurnya. Aku katakan,
"Bila engkau tidak sanggup menahan tangis, maka tunggulah di luar, biar orang lain yang membantuku."
Begitu aku masuk keruang pemandian, Aku mendapati seorang pemuda yang meminta agar semua orang keluar dari tempat pemandian, tak terkecuali orang tua dan saudara si mayit.
Kalau saja aku tidak memakai baju kerja pasti dia juga sudah mengusirku.
Aku katakan padanya, "Baiklah, aku butuh satu atau dua orang untuk membantuku memandikan jasad ini". Dengan cepat pemuda itu menjawab, "Biarkan aku sendiri yang akan membantumu"
Ketika aku mulai membuka wajah si mayit dan menanggalkan pakainnya satu-persatu, tiba-tiba pemuda itu menangis histeris. Aku lantas menegurnya. Aku katakan,
"Bila engkau tidak sanggup menahan tangis, maka tunggulah di luar, biar orang lain yang membantuku."





