Jumat, 18 Maret 2016

Ukhuwah dan Ashobiyah

 


Ukhuwah Islamiyyah adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada setiap diri kaum muslimin. Ukhuwah (persaudaraan) yang dilandasi oleh nilai-nilai Islam akan membuahkan peradaban yang luar biasa sebagaimana yang telah Nabi dan para sahabatnya aplikasikan.
Sehingga rasa persaudaraan dan kepekaan kepada sesama muslim sangat luar biasa meskipun mereka datang dan memeluk Islam dengan suku dan ras yang berbeda. Akan tetapi, nyaris kita tidak temukan di tengah-tengah kaum Muhajirin dan Ansar perbedaan yang meretakkan persaudaraan tersebut, serta membuang sifat fanatisme golongan (Ashobiyah) dikalangan mereka. Jika demikian, pantaslah Islam jaya di muka bumi saat itu dan ditakuti oleh musuh-musuhnya.
Buah dari persaudaraan Muhajirin dan Ansar yang diciptakan oleh Rasulullah, mampu menguasai pasar Madinah yang kala itu didominasi oleh orang-orang Yahudi.
Hanya butuh satu tahun kurang lebih Nabi mempersaudarakan mereka pada masa itu dengan membangun Masjid Nabawi serta mendidik mereka.
Sehingga satu dengan yang lainnya seperti satu tubuh tak bisa dipisahkan, maka lahirlah dari mereka saudagar yang kaya rasa seperti Abdurrahman bin A’uf dan sahabat-sahabat lainnya yang mengusai dunia perpasaran yang mengakibatkan kebangkrutan pasar Yahudi, serta kejayaan pasar Muslim.
Itu adalah salah satu contoh dalam sekala kecil dari ukhuwah yang mereka rajut kala itu, belum lagi kesolidan dan kekompakan mereka dalam dakwah dan berperang fii sabilillah sangat banyak sekali contohnya yang bisa kita aplikasikan dalam konteks kekinian.
Zaman kita sekarang, berbagai macam ormas dan organisasi keislaman yang bermunculan sudah selayaknyalah merapatkan barisan dan bahu membahu menyatukan langkah dakwah dan menyebarkan risalah Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW.
Tanpa harus melihat ormas yang digelutinya, selama dia Muslim dengan satu Tuhan (Allah SWT), Nabi yang sama yaitu, Baginda Rasulullah SAW, sudah saatnya lah kita di zaman yang penuh dengan fitnah memperkecil perbedaan yang bersifat furuiyyah dan menjunjung tinggi serta menyebarkan nilai-nilai Ukhuwah Islamiyyah yang telah Nabi dan para sabahat contohkan, sehingga Islam bisa diterima oleh semua kalangan. Itulah makna islam rahmatan lil ‘alamin tersebuyt.
Bukan malah menjadikan Islam sebagai batu loncatan untuk memperbesar nilai-nilai kelompok masing-masing, syukur-syukur jikalau nilai-nilai tersebut sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah, bukan hanya fanatisme belaka.
Jika fanatisme kelompok sudah mendarah daging di setiap tubuh mereka, sebagaimana yang terkadang kita saksikan di lapangan, yang ada hanyalah mengedepankan ego dan kepentingan kolompoknya masing-masing yang terkadang tidak lagi memerhatikan adab dan akhlak yang semestinya dimiliki oleh para aktivis.
Aneh bin ajaib lagi, jika mengaku sebagai aktivis Muslim menghujat bahkan saling memata-matai saudaranya se akidah, sehingga menimbulkan su’udzon (buruk sangka) antara satu dengan yang lain. Pada akhirnya melahirkan kebencian bahkan permusuhan. Na’uzdu Billah!
Jika potret dan gambaran aktivis muslim saat ini seperti yang digambarkan di atas, maka tunggulah kehancuran, dan Islam akan semakin mundur di tangan kita hanya karena ego dan fanatisme kelompok belaka yang pada akhrinya bukan nilai-nilai Islam yang diperjuangkan sampai titik darah penghabisan, akan tetapi ormas atau pun organisasinya semata yang di perjungankan mati-matian.
Sehingga Ukhuwah Islamiyyah (persaudaraan) yang seharusnya disebarkan ke semua kalangan dan kelompok, kini hanya tertanam dan terbatas pada kelompoknya masing-masing.
Sudah saatnyalah kita membuang sifat fanatisme kelompok itu, dan marilah kita bersama-sama saling marangkul dan menyingsingkan lengan baju kita untuk membangun persaudaraan (ukhuwah) yang pernah Nabi dan para sahabatnya ajarkan demi tegaknya syariat Islam dengan dakwah serta saling memahami satu dengan lainnya meskipun berbeda harokah, tapi tujuan kita sama untuk mencapai ridho dan surga Allah SWT.
Rangkul dan jadilah aktor pemersatu umat ini serta bersahabatlah dengan baik dengan setiap Muslim yang menjungjung nilai-nilai Islam tanpa harus melihat dari ormas dan organisasi manakah dia, selama dia masih shalat, dan membayar zakat maka kita wajib menjalin Ukhuwah Islamiyyah dan husnudzon dengannya.
Sebagaimana Allah terangkan dalam Firman-Nya berikut: “Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara saudaramu seagama.” ( QS. At-Taubah, 11 ).
Maka ingatlah selalu Firman Allah: “Dan berpegang teguhlah kamu sekalian dengan tali Allah dan janganlah kamu sekalian berpecah belah, dan ingatlah nikmat Allah atas kamu semua ketika kamu bermusuh- musuhan maka Dia (Allah) menjinakkan antara hati-hati kamu maka kamu menjadi bersaudara sedangkan kamu diatas tepi jurang api neraka, maka Allah mendamaikan antara hati kamu. Demikianlah Allah menjelaskan ayat ayatnya agar kamu mendapat petunjuk.” (Q.S. Ali-Imron ayat 103)
Salam Ukhuwah Islamiyyah, Akhukum Al faqir Ilallahi.
Hairul Qiram
Mahasantri Ulil Albab UIKA Bogor
Sumber : www.suara-islam.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar