Ukhuwah Islamiyyah adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah
anugerahkan kepada setiap diri kaum muslimin. Ukhuwah (persaudaraan)
yang dilandasi oleh nilai-nilai Islam akan membuahkan peradaban yang
luar biasa sebagaimana yang telah Nabi dan para sahabatnya aplikasikan.
Sehingga rasa persaudaraan dan kepekaan kepada sesama muslim sangat
luar biasa meskipun mereka datang dan memeluk Islam dengan suku dan ras
yang berbeda. Akan tetapi, nyaris kita tidak temukan di tengah-tengah
kaum Muhajirin dan Ansar perbedaan yang meretakkan persaudaraan
tersebut, serta membuang sifat fanatisme golongan (Ashobiyah) dikalangan
mereka. Jika demikian, pantaslah Islam jaya di muka bumi saat itu dan
ditakuti oleh musuh-musuhnya.
Buah dari persaudaraan Muhajirin dan Ansar yang diciptakan oleh
Rasulullah, mampu menguasai pasar Madinah yang kala itu didominasi oleh
orang-orang Yahudi.
Hanya butuh satu tahun kurang lebih Nabi mempersaudarakan mereka pada masa itu dengan membangun Masjid Nabawi serta mendidik mereka.
Hanya butuh satu tahun kurang lebih Nabi mempersaudarakan mereka pada masa itu dengan membangun Masjid Nabawi serta mendidik mereka.
Sehingga satu dengan yang lainnya seperti satu tubuh tak bisa
dipisahkan, maka lahirlah dari mereka saudagar yang kaya rasa seperti
Abdurrahman bin A’uf dan sahabat-sahabat lainnya yang mengusai dunia
perpasaran yang mengakibatkan kebangkrutan pasar Yahudi, serta kejayaan
pasar Muslim.
Itu adalah salah satu contoh dalam sekala kecil dari ukhuwah yang
mereka rajut kala itu, belum lagi kesolidan dan kekompakan mereka dalam
dakwah dan berperang fii sabilillah sangat banyak sekali contohnya yang
bisa kita aplikasikan dalam konteks kekinian.
Zaman kita sekarang, berbagai macam ormas dan organisasi keislaman
yang bermunculan sudah selayaknyalah merapatkan barisan dan bahu membahu
menyatukan langkah dakwah dan menyebarkan risalah Islam yang dibawa
oleh Rasulullah SAW.
Tanpa harus melihat ormas yang digelutinya, selama dia Muslim
dengan satu Tuhan (Allah SWT), Nabi yang sama yaitu, Baginda Rasulullah
SAW, sudah saatnya lah kita di zaman yang penuh dengan fitnah
memperkecil perbedaan yang bersifat furuiyyah dan menjunjung tinggi
serta menyebarkan nilai-nilai Ukhuwah Islamiyyah yang telah Nabi dan
para sabahat contohkan, sehingga Islam bisa diterima oleh semua
kalangan. Itulah makna islam rahmatan lil ‘alamin tersebuyt.
Bukan malah menjadikan Islam sebagai batu loncatan untuk
memperbesar nilai-nilai kelompok masing-masing, syukur-syukur jikalau
nilai-nilai tersebut sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah,
bukan hanya fanatisme belaka.
Jika fanatisme kelompok sudah mendarah daging di setiap tubuh
mereka, sebagaimana yang terkadang kita saksikan di lapangan, yang ada
hanyalah mengedepankan ego dan kepentingan kolompoknya masing-masing
yang terkadang tidak lagi memerhatikan adab dan akhlak yang semestinya
dimiliki oleh para aktivis.
Aneh bin ajaib lagi, jika mengaku sebagai aktivis Muslim menghujat
bahkan saling memata-matai saudaranya se akidah, sehingga menimbulkan
su’udzon (buruk sangka) antara satu dengan yang lain. Pada akhirnya
melahirkan kebencian bahkan permusuhan. Na’uzdu Billah!
Jika potret dan gambaran aktivis muslim saat ini seperti yang
digambarkan di atas, maka tunggulah kehancuran, dan Islam akan semakin
mundur di tangan kita hanya karena ego dan fanatisme kelompok belaka
yang pada akhrinya bukan nilai-nilai Islam yang diperjuangkan sampai
titik darah penghabisan, akan tetapi ormas atau pun organisasinya semata
yang di perjungankan mati-matian.
Sehingga Ukhuwah Islamiyyah (persaudaraan) yang seharusnya
disebarkan ke semua kalangan dan kelompok, kini hanya tertanam dan
terbatas pada kelompoknya masing-masing.
Sudah saatnyalah kita membuang sifat fanatisme kelompok itu, dan
marilah kita bersama-sama saling marangkul dan menyingsingkan lengan
baju kita untuk membangun persaudaraan (ukhuwah) yang pernah Nabi dan
para sahabatnya ajarkan demi tegaknya syariat Islam dengan dakwah serta
saling memahami satu dengan lainnya meskipun berbeda harokah, tapi
tujuan kita sama untuk mencapai ridho dan surga Allah SWT.
Rangkul dan jadilah aktor pemersatu umat ini serta bersahabatlah
dengan baik dengan setiap Muslim yang menjungjung nilai-nilai Islam
tanpa harus melihat dari ormas dan organisasi manakah dia, selama dia
masih shalat, dan membayar zakat maka kita wajib menjalin Ukhuwah
Islamiyyah dan husnudzon dengannya.
Sebagaimana Allah terangkan dalam Firman-Nya berikut: “Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara saudaramu seagama.” ( QS. At-Taubah, 11 ).
Maka ingatlah selalu Firman Allah: “Dan berpegang teguhlah kamu
sekalian dengan tali Allah dan janganlah kamu sekalian berpecah belah,
dan ingatlah nikmat Allah atas kamu semua ketika kamu bermusuh- musuhan
maka Dia (Allah) menjinakkan antara hati-hati kamu maka kamu menjadi
bersaudara sedangkan kamu diatas tepi jurang api neraka, maka Allah
mendamaikan antara hati kamu. Demikianlah Allah menjelaskan ayat ayatnya
agar kamu mendapat petunjuk.” (Q.S. Ali-Imron ayat 103)
Salam Ukhuwah Islamiyyah, Akhukum Al faqir Ilallahi.
Hairul Qiram
Mahasantri Ulil Albab UIKA Bogor
Sumber : www.suara-islam.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar